√9 Rumah Adat Sumatera Utara dari Berbagai Suku (LENGKAP)

√9 Rumah Adat Sumatera Utara dari Berbagai Suku (LENGKAP)

Mungkin ketika kita membahas tentang Pulau Sumatera, Empek-empek adalah yang terlintas dipikiran kita. Betul tidak?

Tetapi kita nanti tidak akan membahas tentang itu ya, Tetapi membahas Rumah adat yang ada di Sumatera, tepatnya di Sumatera Utara. Sumatera Utara merupakan provinsi yang tercatat sebagai provinsi yang memiliki populasi terbanyak urutan 4 di Indonesia, dengan Suku Batak yang menjadi mayoritas. Tak heran jika Suka Batak menjadi ikon dari Sumatera Utara.

Suku Batak adalah Suku terbesar setelah Suku Jawa. Suku Batak juga terbagi lagi menjadi suku-suka lainnya seperti, Batak Angkola, Batak Toba, Batak Koro, Batak Simalungun, Batak Pakpak, dan Batak Mandailing. Dari masing sub suku tersebut ternyata memiliki rumah adat yang berbeda-beda loh? Apa saja sih, Rumah adatnya? Yuk kita pelajari sekarang..

Nama Rumah Adat Sumatera Utara

Rumah Adat Sumatera Utara

1.Rumah Adat Bolon (Ikon-nya Sumatera Utara)

Rumah Adat Sumatera Utara yang pertama adalah Rumah Adat Bolon, rumah adat ini menjadi salah satu ikon untuk Rumah Adat Sumatera Utara, dari berbagai macam rumah adat dari suku-suku di Sumatera Utara.

rumah adat sumatera utara

Struktur Bangunan Rumah Adat Bolon

Rumah adat Sumatera Utara tersebut memiliki bentuk persegi panjang dan termasuk kategori rumah panggung. Keunikan yang terdapat dari Rumah Adat Bolon adalah Keseluruhannya terbuat dari bahan alam.

Tiang penompong yang bisa menompang sekitar 1,75 meter dari permukaan tanah ini terbuat dari gelondongan kayu berdiameter > 40 cm. Dinding terbuat dari anyaman bambu, lantai terbuat dari papan, sementara atapnya dari daun rumbia tau ijuk. Untuk menguatkan ikatan antar bahan hingga dapat bersatu menjadi Rumah Bolon tidak menggunakan satu paku pun. Ia dibuat dengan sistem kunci antar kayu yang kemudian diikat menggunakan tali.

Rumah Adat Bolon atau bisa disebut rumah panggung bisa dihuni oleh 4-6 keluarga yang hidup bersama-sama. Tujuan adanya panggung di Rumah Adat Bolon ini adalah untuk membuat kolong rumah yang berfungsi sebagai tempat pemeliharaan masyarakat batak, seperti babi, ayam, dan kambing.

Fungsi Rumah Adat Bolon

Rumah Adat Bolon yang menjadi ikonnya Pulau Sumatera merupakan rumah kediaman 13 Raja-rajanya Batak. Namun seiring berkembangnya rumah yang dijadikan rumah kediaman raja menjadi rumah penduduk Suku Batak. Fungsi dari rumah batak ini bisa kita lihat dari pembagian ruangnya, yaitu :

  • Ruang Jabu Bong, ruang khusus untuk kepala keluarga yang terletak di belakang sudut sebelah kanan
  • Ruang Jabu Soding, ruang khusus yang diperuntukkan untuk anak perempuan yang letaknya di sudut sebelah kiri dan berhadapan dengan jabu bong.
  • Ruang Jabu Suhat, ruangan ini biasa buat anak lelaki yang sudah menikah letaknya di depan sudut sebelah kiri.
  • Ruang Tampar Piring, ruangan untuk menyambut tamu yang letaknya berada disebelah jabu suhat.
  • Ruang Jabu Tonga Rona Ni Jabu Rona, ruang keluarga yang letaknya berada ditengah dan paling besar dari ruang yang lain.
  • Kolong sebagai tempat menyimpan bahan makanan dan sekaligus sebagai kandang ternak.

Ciri Khas Rumah Bolon

Rumah Bolon merupakan rumah adat sebagai niali identitas dari Provinsi Sumatera Utara, hal tersebut menjadikan Rumah Bolon mempunyai keunikan tersendiri. Keunikan tersebutlah menjadikan pembeda dari rumah adat di Provinsi Indonesia. Keunikan pada Rumah Bolon ini diantaranya :

  • Dindingnya pendek tetapi cukup untuk berdiri karena tidak memakai plafon
  • Atap dari Rumah Bolon ini seperti pelana kuda dengan sudut yang sangat sempit sehingga terlihat cukup tinggi.
  • Pada bagian atas terdapat hiasan anyaman untuk memperindah penampilan rumah
  • Pada bagian atas pintu terdapat hiasan lukisan hewan atau grogo. Lukisannya seperti lukisan kerbau atau cicak dengan warna merah, putih, dan hitam yang paling dominan. Simbol Cicak yang mempunyai makna bahwa masyarakat batak mempunyai rasa persaudaraan yang kuat kepada sesama orang. Sedangkan Simbol Kerbau mempunyai makna sebagai tanda terimakasih.

Filosofi Rumah Bolon

Karena menjadi salah satu ikon dari Sumatera Utara, Sesuatu yang terdapat di rumah tersebut mempunyai nilai filosofinya. Adapun filosofi dari rumah adat Sumatera Utara yaitu Rumah Bolon ini, antara lain :

  • Kepala Kerbau 

Kepala Kerbau merupakan Simbol dari Rumah Adat Sumatera Utara yang terdapat pada bagian depan rumah dan berupa tengkorak yang digantungkan.  Arti dari simbol itu sendiri adalah lambang kesejahteraan bagi para pemilik rumah. Jika, semakin banyak tengkorak kerbau lengkap dengan tanduknya maka semakin makmur dan sejahtera pula si pemilik rumah tersebut. Hal tersebut juga memiliki makna yang sama dengan bentuk atap yang melengkung, menandakan kesejahteraan hidup si pemilik rumah.

  • Atap Lambe-Lambe

Lambe-lambe itulah orang Suku Batak menyebutnya. Atap tersebut berbentuk segitiga dan biasanya dibuat dengan sejumlah anyaman bambu dan ijuk sebagai penutupnya. Ijuk mempunyai arti sebagai personifasi sifat dari pemilik rumah dan pada umumnya dicat dengan warna merah, putih, dan hitam.

  • Ukiran Dinding

Selain Atap, Tiang, dan lain-lainnya ada lagi filosofi yang didapatkan dari Rumah Adat Sumatera Utara ini, yakni ukiran pada dinding rumahnya. Ukiran tersebut adalah sesuatu hal yang menjadikan Rumah Adat sumatera Utara ini menjadi terkenal. Ukiran tersebut berbentuk buah dan cicak, yang kemudian kedua bentuk tersebut menjadi ukiran tradisional khas Sumatera Utara.

Ukiran yang berbentuk buah tersebut dinamai dengan sebutan odap-odap atau kesuburan (buah dada), memberikan arti bahwa masyarakat batak adalah masyarakat yang subur, selain itu juga menjadi lambang syukur bahwa mereka telah dianugerahi tanah gembur dan nan subur.

Sementara itu, cicak sendiri memiliki filosofi bahwa warga batak mampu beradaptasi dimanapun dan tetap bisa hidup makmur walaupun di luar Sumatera Utara, yaitu tanah moyang mereka.

  • Bagian Ruangan

Rumah adat sumatera utara yaitu Rumah Bolon memiliki 3 ruangan yang memiliki filosofi sekaligus fungsinya. Bagian atap yang menjadi simbol dari dunia atas Banua Ginjang.  Bagian tengah yang menjadi tempat tinggal semua keluarga disebut dunia tengah atau Banua Tonga. Sedangkan pada bagian bawah adalah ruangan yang khusus untuk memelihara hewan ternak atau gudang yang memiliki nama Banua Toru yang kurang lebih mempunyai arti dunia makhluk halus.

2. Rumah Adat Karo

Rumah adat Sumatera yang satu ini juga disebut dengan Rumah Adat Siwuluh Jabu. Siwaluh memiliki arti rumah yang dihuni oleh 8 keluarga dan  asing-masing dari 8 keluarga tersebut mempunyai peran tersendiri di dalam rumah tersebut.

Penempatan keluarga tersebut ditentukan oleh adat Karo. Secara umum, penempatan tersebut terdiri atas jabu jahe/ jabu hilir dan jabu julu/jabu hulu.

Jabu Jahe (hilir) tersebut terbagi lagi menjadi dua bagian yaitu jabu ujung kayu dan jabu rumah sendipar ujung kayu.

Masing-masing jabu dibagi menjadi dua, sehingga terbentuk beberapa jabu-jabu. Antara lain, sedapuren bena kayu, sedapuren ujung kayu, sedapuren lepar bena kayu, dan jabu sadapuren lepar ujung kayu.

Sementara itu, ruangan dari rumah adat Karo terdiri dari 8 ruangan dan dihuni juga oleh 8 keluarga. Selain itu hanya terdapat 4 dapur di dalam Rumah Adat Karo.

3. Rumah Adat Pakpak

Inilah Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara
batak-network.blogspot.com

Rumah Adat Pakpak adalah Rumah Adat Sumatera Utara yang terletak di Kabupaten Dairi dan Pakpak Barat. Dahulu kedua kabupaten tersebut dijadikan satu, namun sekarang Kabupaten Pakpak terbagi lagi dan terciptalah dua kabupaten.

Rumah Adat Pakpak ini memiliki bentuk yang khas. Rumah tradisional ini dibuat dari bahan kayu dengan atap yang berbahan ijuk. Bentuk desain arsiteknya dijadikan sebagai wujud seni budaya Pakpak, yang mempunyai arti tersendiri. Rumah Adat Pakpak memiliki nama sebutan Jerro.

Rumah adat ini sama halnya dengan rumah adat lainnya di Sumatera Utara (Sumut). Yang pada umumnya menggunakan tangga dan tiang penyangga.

4. Rumah Adat Mandailing

rumah-adat-mandailing-sumut
www.pariwisatasumut.net

Rumah Adat Mandailing adalah kelajutan dari Rumah Adat Sumatera yang berikutnya. Ruamah Adat Mandailing terletak di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Kabupaten ini bagian dari wilayah Kabupaten Padang Lawas dan Kabupaten Tapanuli Selatan.

Daerah Mandailing dikenal mempunyai destinasi wisata alam yang memukau. Budaya kearifan lokal yang begitu erat dipegang oleh penduduk setempat. Jadi kalian bakalan mudah menjumpai rumah adat satu ini.

Rumah adat suku Mandailing dinamai Bagas Godang, dimana Bagas berarti rumah dan Godang adalah banyak (bahasa Mandailing).

Bagas Godang ini memiliki Konstruksi bangunan yang sangat khas yaitu antara lain

  • berbentuk persegi panjang yang disangga oleh kayu besar berjumlah ganjil yang terdapat ruang depan, ruang tengah, ruang tidur dan juga dapur.
  • Memiliki halaman yang luas dan datar yang berfungsi untuk prosesi adat dan tempat berkumpul, halaman ini sering disebut halaman bolak silangse utang.
  • Dinding oranamenya terbuat dari 3 jenis material yakni tumbuhan seperti batang bambu, hewan seperti kalajengking dan lipan dan juga peralatan sehari hari seperti timbangan dan pedang.

5. Rumah Adat Melayu

Rumah-Adat-Melayu-sumatera-utara
silontong.com

Selanjutnya ialah Rumah Adat Melayu yang bisa kalian jumpai Kota di bebrapa Kabupaten di Medan seperti, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat, Kabupaten Batu Bara, Kabupaten Labuhan dan Kabupaten Serdang Begadai (Sergei) dan Tebing Tinggi.

Suku Melayu yang berada di Kota Medan ini memiliki peranan besar untuk menjadikan Kota Medan menjadi kota ketiga terbesar di nusantara.

Adapun yang khas dari rumah adat Sumatera Utara khas suku Melayu Deli ini adalah warna hijau dan kuningnya, dinding papan dan atap ijuk.

Rumah Adat Melayu ini seperti rumah panggung juga yang ditopang oleh beberapa tiang dengan tinggi 2 meter. Untuk bagian bawah rumahnya ini biasanya untuk berbagai kegiatan dan memiliki tangga di bagian depan yang terhubung dengan teras depan dan untuk bagian kanan serta kiri rumah juga memiliki tangga yang terhubung dengan teras atau serambi samping.

6. Rumah Adat Nias

Rumah-Adat-Nias-Utara
notepam.com

Ruamah Adat Sumatera Utara selanjutnya terdapat di Kepulau Nias, Kepualuan Nias yang terkenal sebagai destinasi wisata bahari andalan Sumatera Utara, ditambah lagi kebudayaan megalitik Nias juga tertua di Indonesia.

Rumah Adat Nias tersebut memiliki nama Omo Sebua. Dibangun seperti rumah panggung tradisional orang Nias. Tetapi ada pula, didesain dengan berbeda.

Rumah ini dibangun diatas tiang-tiang kayu nibung yang tinggi dan besar, yang beralaskan alas yang disebut alas rumbai. Memiliki denah yang berbentuk bulet telu yaitu Nias Timur, Barat, dan Utara. Sedangkan di Daerah Nias Tengah dan Selatan bentuk denahnya persegi panjang.

Biasanya yang menghuni Rumah Adat Nias ini adalah  kepala negeri (tuhenori), kepala desa (salawa) atau kaum bangsawan dan sering disebut dengan nama Omo Sebua.

7. Rumah Adat Angkola

rumah adat Bolon Sumatera Utara
http://adat-tradisional.blogspot.com

Rumah adat Angkola, adalah rumah adat yang sering kali disamakan dengan Mandailing.  Rumah adat ini juga dinamai bagas godang seperti rumah adat mandailing. Tetapi, terdapat beberapa perbedaan diantara keduanya.

Ciri Khas dari rumah adat ini adalah memakai warna hitam untuk area dindingnya yang membuat rumah ini kelihatan etnis dan indah. Rumah Adat Angkola Sumatera Utara ini menggunakan bahan dari serat dan dinding serta lantai dari papan.

Rumah adat ini biasanya dipakai untuk acara peresmian atau acara lainnya yang anggotanya harus menggunakan pakaian adat tradisional.

8. Rumah Adat Simalungan

Rumah-Adat-Simalungun- rumah- adat - sumatera - utara

Rumah adat dari Sumatera Utara berikutnya adalah Rumah Adat Simalungan atau disebut dengang Rumah Bolon yang terletak di Kabupaten Simalungun dan Kota Pematang Siantar.

Berbeda dengan rumah adat lainnya Rumah Adat Simalungan  atapnya didesain berbentuk limas.

9. Rumah Adat Balai Batak Toba

Rumah-Adat-Simalungun-rumah adat sumatera utara
safe-culture.blogspot.com

Rumah Adat Sumatera Utara yang terakhir adalah Rumah Balai Batak Toba. Rumah tersebut terbagi menjadi dua bagian yaitu jabu parsakitan dan jabu bolon, yang memiliki fungsi berbeda. Berbedaan tersebut antara lain :

  • Jabu parsakitan adalah tempat penyimpanan barang. Tempat ini juga terkadang dipakai sebagai tempat untuk pembicaraan terkait dengan hal-hal adat.
  • Jabu bolon adalah rumah keluarga besar. Rumah ini tidak memiliki sekat atau kamar sehingga keluarga tinggal dan tidur bersama. Rumah Balai Batak Toba juga dikenal sebagai Rumah Bolon.

Filosofi Rumah Adat Balai Batak Toba

Pada jaman dahulu Rumah Bolon didirikan oleh Raja Tuan Rahalim. Beliau dikenal perkasa dan memiliki 24 istri. Namun, yang tinggal di istana hanya puang bolon (permaisuri) dan 11 orang nasi puang (selir) serta anaknya sebanyak 46 orang. Sisanya, yang 12 orang lagi tinggal dikampung-kampung yang berada satu wilayah kerajaannya.

Setelah bergulirnya waktu yang menjadi raja terakhir adalah yang menempati rumah tersebut. Tuan Mogang Purba itulah raja terakhirnya. Disaat itu usai Kemerdekaan RI pada tahun 1947 berakhir pula kedaulatan raja dengan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kemudian di tahun 1961 Rumah Balon diserahkan beserta perangkatnya kepada Pemerintah Daerah Sumatera Utara, Kabupaten Simalungun.

Rumah ini berbentuk seperti rumah panggung yang disangga oleh beberapa tiang penyangga.Tiang penyangga rumah biasanya terbuat dari kayu.

Rumah Balai Batak Toba mempunyai bahan dasar dari kayu. Menurut kepercayaan masyarakat Batak, rumah ini terbagi ke dalam tiga bagian yang mencerminkan dunia atau dimensi yang berbeda-beda.

  • Bagian pertama yaitu atap rumah yang diyakini mencerminkan dunia para dewa.
  • Bagian kedua yaitu lantai rumah yang diyakini mencerminkan dunia manusia.
  • Bagian yang ketiga adalah bagian bawah rumah atau kolong rumah yang mencerminkan dunia kematian.

Masyarakat Batak menilai, rumah ini tampak seperti seekor kerbau yang sedang berdiri. Pembangunan rumah adat suku Batak ini dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat Batak.

Oke, Demikian informasi mengenai rumah adat suku di Sumatera Utara yang di ulas dari berbagai macam sumber. Semoga artikel ini memberi manfaat untuk para pembaca dan tentunya untuk saya sendiri.

Jika ada kesalahan bisa langsung komentar saja dibawah ya, karena sesungguhnya kesempunaan itu ada karena Allah SWT semata, sedangkan kesalahan hanya milik hambanya.

Nurul potret

Si Penulis adalah seorang perempuan yang suka travelling dan ingin mengililingi indahnya keragaman kebudayaan dan kesenian di Indonesia

Yakin nggak mau komen nih

Close Menu